Novel Meredam Kesedihan, by Aswinni Nur Prameswari



MEREDAM KESEDIHAN

cover novel






KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya saya  dapat menyelesaikan novel yang saya tulis sendiri dengan judul “Meredam Kesedihan”. Alhamdulillah novel ini terselesaikan untuk memenuhi persyaratan tugas akhir sekolah mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 3 UNGGULAN TENGGARONG.
Dalam penulisan novel ini saya merasa masih banyak kekeliruan dan kekurangan baik pada teknik penulisan maupun alur cerita,  mengingat saya masih penulis pemula.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan.
Selamat Membaca😎😎😎



Tenggarong, Desember 2017


Aswinni Nur Prameswari







UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam penulisan novel ini saya mengucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan novel ini, khususnya kepada :

1.             Allah SWT yang memberikan kesabaran kepada saya saat mendapatkan kendala pada laptop dan mengetik cerita ini.
2.             Keluarga saya tercinta yaitu Ibu Bapa dan Kakak saya yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada saya dalam menyelesaikan novel.
3.             Ibu Arum Yuliana S.pd selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam membimbingan pengarahan penyelesaian novel ini.
4.             Teman sekelas di XII MIA 1, Rekan-rekan SMA NEGERI 3 UNGGULAN TENGGARONG dan Moodbooster z yang sukarela memberikan tambahan, saran, usul kepada saya.
5.             Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan mulai dalam penulisan, editing, dan percetakan.

Saya berharap semoga Allah SWT memberikan pahala kepada mereka yang telah memberikan bantuan kepada saya, dengan menjadikan semua bantuan ini sebagai amal ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.







DAFTAR ISI
Pisang Goreng ..........................................................
Cidera ..........................................................
Keong ..........................................................
Operasi ..........................................................
Rumah Sakit ..........................................................
Bu Sani ..........................................................
Kebun ..........................................................
Hujan ..........................................................
Menyanyi ..........................................................
Pramuka .........................................................
Merenung .......................................................
Semesteran .........................................................
Porseni ............................................................
Tenis Meja .........................................................
Pembagian Rapot ............................................














Bismillahirohmanirohim
Namaku Itna Fitri, aku bersekolah smp kelas 2. Aku dari keluarga yang tidak mampu, kedua orang tuaku hanyalah petani yang bekerja sebagai penggarap sawah orang yang pemiliknya tinggal jauh dikota. Pemilik sawah tersebut merupakan pengusaha kursi jati yang sukses, dulunya sawah itu milik orang tuanya yang sudah meninggal, tetapi pemilik itu memilih merantau dan menjadi pengusaha di kota yang akhirnya sawah itu di titipkan ke orang tuaku sebagai mata pencarian. Kata orang namaku bagus, arti  dari namaku ialah, itna merupakan perpaduan dari nama bapak dan ibu ku yaitu Marsito dan Narwah, sedangkan fitri karena aku lahir hari ke 2 lebaran idul fitri. aku anak pertama dari 4 bersaudara dan mempunyai 3 adik. Adikku yang pertama sedang duduk di sekolah dasar kelas 5, adik ke duaku kelas 2 sekolah dasar dan adik terakhirku baru berusia 4 tahun, tahun depan adikku harus masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Keseharianku setelah pulang sekolah membantu bapak dan ibuku di sawah, pada malam harinya aku di rumah kayu yang pondasinya sudah terlihat jabuk dan hampir roboh, belajar menggunakan buku-buku bekas dari orang yang memberikannya padaku. Aku belajar giat karena aku ingin membanggakan keluargaku. Walaupun dirumah hanya menggunakan lampu tembok karena di kampungku belum ada listrik, aku tidak putus asa untuk terus belajar.








Pisang Goreng
Setiap hari aku bangun jam 03.30 sudah menjadi kebiasaan ku bangun jam segitu, karena pagi sebelum adzan subuh aku harus membuat pisang goreng yang nanti saat di sekolah ku jual kepada teman-temanku. Harga yang aku berikan hanya Rp.500 untuk 1 pisang goreng, biasanya pisang goreng ku tidak terjual habis, dan hasil sehari dari aku menjual pisang goreng kurang lebih Rp.15.000 saja. ya hitung itung dapat membantu untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi setiap hari sabtu saat hendak pulang sekolah ada guruku namanya bu sani yang merupakan guru seni budaya, ia selalu menanyakan sisa pisang gorengku dan untunglah bu sani  iba kepadaku memborong semua pisang gorengnya.
Jarak antara rumah dengan sekolah lumayan jauh, aku berjalan kaki menggendong tas dan membawa keranjang yang berisikan pisang goreng menuju sekolah dengan semangat. Sesampai di sekolah aku menghela nafas karena keringat yang bercucuran di sekitar dahiku, aku berjalan menuju kelasku dan menaruh keranjang pisang gorengku di belakang kelas. Tempat duduk ku selalu berpindah-pindah karena ada salah satu anak di kelasku yang menjadi penguasa kelas jadi seenaknya dia mau duduk di mana saja, teman-temanku yang lain tidak mau ambil pusing dengan tingkahnya itu karena dia mempunyai kekuatan penuh yaitu guru BK di sekolah merupakan tantenya.
Saat jam istirahat tiba teman-temanku pergi ke kantin, aku pun ikut pergi ke kantin dengan membawa keranjangku, aku duduk di tepi tangga depan pintu masuk kantin menunggu jika ada yang beli. Senang sekali rasanya jika banyak yang membeli pisang gorengku. Saat waktu istirahat sudah habis aku kembali ke kelas dengan membawa pisang gorengku yang masih tersisa.
Bell pulangan berbunyi aku pulang menyusuri jalan menuju ke rumah, sampai di rumah aku hanya bertemu adik ku yang sudah pulang lebih dulu dariku. Bapak ibu ku masih di sawah dengan adik terakhirku. Biasanya adikku meminta untuk membantunya mengerjakan pr yang di berikan gurunya disekolah, aku pun membantunya, jika pr yang diberikan materi yang susah aku mencari jawaban di buku-buku lainnya. Saat orang tua ku pulang dari sawah aku membuatkan bapak ku segelas kopi panas dan ibuku langsung ke dapur yang hanya berisikan kompor minyak tanah dan peralatan yang seadanya untuk memasak makan siang. Setiap hari ibuku memasak sayur kangkung atau tidak daun singkong yang tumbuh liar di mana-mana, aku masih bersyukur masih ada beras yang bisa di masak, karena kalau beras pembagian dari pemerintah terlambat di bagikan, kami hanya makan singkong rebus yang di ambil dari kebun. 
Pada sore hari ayahku dan adikku pergi ke sungai kampung sebelah dengan membawa jaring untuk mencari ikan, tetapi hanya keberuntungan saja untuk mendapatkannya sebab ikan yang ada disungai itu sedikit. Tetapi jika musim ikan aku dan ibuku sangat senang sekali melihat bapakku dan adikku membawa ikan-ikan pulang kerumah. Dan itu pertanda bahwa malam ini kami makan dengan lauk ikan hasil tangkapan bapak, senang sekali rasanya.
Menjelang maghrib penduduk desa hilir mudik pulang ke rumahnya masing-masing, bapak ku dan adik ku yang laki-laki ikut pergi ke surau yang tidak jauh dari rumahku untuk sholat maghrib disana. Tak lama adzan maghrib pun berkumandang, aku dan ibuku menjalankan sholat maghrib di rumah saja dan menjaga adikku yang masih kecil. Setelah sholat maghrib aku membantu ibuku untuk mempersiapkan makan, makanan yang kami makan yaitu ikan yang bapakku dapatkan dari menjaring di sungai dan kangkung yang ada tadi siang.
Setelah mengisi perut aku belajar di depan pintu bersama lampu tembok, dan jam sudah menunjukkan setengah 10, bapakku menyuruh aku untuk tidur bersama adik-adikku. Sebelum tidur aku memikirkan apa yang terjadi padaku di masa depan, apakah aku akan terus bersekolah atau melanjutkan mata pencarian orang tuaku yang sebagai penggarap sawah milik orang.


Cidera
Pagi ini aku pergi kesekolah seperti biasanya dengan membawa keranjang yang berisikan pisang goreng, selama menuju sekolah aku berjalan di pinggir, Tiba-tiba ku dengar dari arah belakang ada segerombolan anak SMA laki-laki berlarian dan salah satu dari mereka menabrak ku, akhirnya aku terjatuh dan isi keranjangku berhamburan di tepi jalan, aku merintih kesakitan karena lututku jadi berdarah dan juga pisang goreng ku banyak jatuh ke jalanan. Mereka yang menabrakku tadi berlari meninggalkanku seolah tidak ada yang terjadi.
Aku mengumpuli pisang gorengku dan terpaksa harus ku buang karena tidak mungkin pisang gooreng yang sudah jatuh tetap ku jual. Kulihat isi keranjangku hanya sedikit yang tidak jatuh, dan itu tetap kubawa kesekolahan, aku berjalan lagi menuju sekolahan dengan kaki yang masih sakit dan berdarah. Perasaan pilu menghampiriku kenapa baru dipagi hari aku di beri ujian, kalau pisang gorengku tidak jatuh, aku bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, tetapi hari ini aku cuman membawa sedikit, aku tetap berjalan dan mencoba mengikhlaskan nya.
Sampai di sekolah aku belajar, pelajaran pagi ini ialah olahraga. Aku dan teman-temanku berganti baju dan langsung menuju ke lapangan. Nama guru olahragaku ialah Pak Ebie, kami di perintahkan untuk pemanasan terlebih dahulu, saat itu aku teringat bahwa minggu lalu pak ebie mengatakan hari ini pengambilan nilai untuk materi lari, melihat keadaan kakiku yang masih berdarah dan jalanku agak sedikit pincang aku mencoba berbicara kepada pak ebie untuk meminta ijin agar aku dapat mengambil nilai pada minggu depan. Namun upayaku gagal, pak ebie malah membentak ku dan tidak mengijinkan aku untuk ambil nilai minggu depan. Ia pun mengatakan ke semua teman-temanku, apapun keadaannya mau sakit mau sehat semua harus ikut pengambilan nilai hari ini. jujur menurutku sikap pak ebie ini terlalu keras.
Urutan absen ku nomor 14, teman-temanku yang urutan absen pertama berpasangan lari nya dan deluan dalam pengambilan nilai, melihat mereka tampak manggah kecapaian setelah lari, aku membulatkan tekadku tetap semangat dengan lututku yang masih sakit agar nilai olahragaku tetap bagus. Nomor absen ku di panggil pak ebie, dan aku dipasangkan dengan temanku bernama ferni, tubuhnya tinggi seperti atletik, dia memang jago dalam bidang olahraga, tapi mau tidak mau karena absen ku berdekatan dengannya, aku hanya berpasrah saja.
Pluit pak ebie pun di tiup. Aku mengucapkan bismillah sebelum memulai.
“persiapan”
“siap”
“mulai”
Aku berlari semampuku saja, lariku tidak sekencang ferni yang sudah jauh dariku, makin lama lari ku menjadi pelan aku hanya beranggapan yang penting aku tidak berhenti dan tetap menuju garis finish. Sesampai di garis finish pak ebie melihat stopwatch waktu berapa lama aku berlari. Dan pak ebie pun memberikan nilai 60. Ya aku hanya tersunduk diam menerima nilai itu.
Pergantian jam seusai olahraga yaitu pelajaran agama islam, gurunya bernama pak lukman, aku menyukai guru ini karena setiap pelajaran pak lukman tidak melulu menerangkan materi sesuai buku agama islam, tetapi juga menerangkan bagaimana kejadian-kejadian kehidupan di dunia dan menghadapi problematika yang terjadi pada diri kita. Setiap pak lukman bercerita aku selalu mendengarkan dengan seksama dan memahami penjelasan beliau. Dan tambahan mengenai doa dan bacaan ayat-ayat al-qur’an aku mencatatnya, karena menurutku pak lukman memang orang yang alim dan mempunyai banyak amalan doa-doa kelihatan terpancar dari raut wajahnya karena itu sengaja aku catat bila aku membutuhkannya aku akan membacanya. Nasehat pak lukman juga dapat ku terima dengan mudah dan ikhlas, biasanya setelah mendengarkan nasehat beliau aku langsung memohon ampunan kepada Allah swt.
Jam istirahat pun tiba aku tidak ke kantin untuk menjajakan pisang goreng, aku hanya duduk di kursi panjang depan kelas, karena kejadian tadi pagi aku hanya menjual sedikit pisang gorengnya. Hanya beberapa temanku yang mebeli, dan masih tersisa pisang gorengnya. Jam istirahat usai aku kembali masuk ke kelas dan lanjut pelajaran.
Aku pulang kerumah, sesampainya dirumah belum ada siapa-siapa di rumah, mungkin bapak ibu ku masih di sawah, adik ku belum pulang juga. Melihat luka di lututku yang masih merah ku coba untuk mengobatinya dengan minyak tradisional milik bapakku. konon katanya minyak ini terbuat dari tawon, minyak ini ampuh mengobati segala luka atau memar, bapakku membelinya waktu ia pergi ke kampung tempat pengolahan minyak tersebut.



Keong
Hari ini aku tidak turun kesekolah, karena guru-guru sedang mengikuti pelatihan di gedung pendidikan jadi seluruh siswa di liburkan, biasanya jika libur sekolah aku ikut bapak ibuku ke sawah, karena ini dari aku bangun aku tidak menggoreng pisang untuk di jual. Adikku hanya di rumah saja tidak ikut ke sawah. Perjalananku menuju sawah cukup melelahkan, tetapi melihat senyum bapak dan ibuku rasa lelahku menjadi hilang. Sesampainya di sawah aku sangat bersemangat membantu bapak ibuku menanam padi, mulai dari membajak sawah hingga menanam bibit padi, semua ku lakukan dengan penuh suka cita.
Di sela-sela aku membajak sawah, aku menemukan keong yang masih kecil di tengah sawah. Aku melihatnya ingin membawa pulang untuk ku berikan pada adik, mungkin adikku akan senang melihat keong ini, akhirnya keong tersebut ku bawa pulang, bapak ibuku tidak mengetahuinya. Sampai di rumah, ku berikan keong ini kepada adikku, adikku tampak senang melihatnya keong ini yang keluar dan masuk bersembunyi di dalam cangkang. Ibuku yang sedang di dapur memanggilku agar membantunya memasak. Ku tinggal adikku yang sedang memainkan keong itu di depan rumah. Setelah aku di dapur ibuku meminta agar aku mengolah sambal untuk pelengkap rasa makan siang ini, aku pun mengambil cobek dan mempersiapkan mengolah sambal.
Saat aku mengulak sambal dan ibuku memasak, terdengar suara adikku yang menangis dari luar rumah, segera aku berlari melihat mengapa adikku menangis. Adik menunjukkan lehernya sambil menangis. Tidak ku sangka bahwa adik ku tertelan keong yang aku bawakan dari sawah. Aku berteriak memanggil bapak dan ibuku yang di dalam rumah, akhirnya datang bapakku dan melihat keadaan adikku. Datang juga orang di sebelah rumahku melihat apa yang terjadi, kata orang tersebut  adikku harus segera di bawa ke puskesmas karena jika terlambat akan bahaya dengan pernafasan adikku.
Bapakku terlihat bingung dan gelisah karena tidak ada kendaraan dan jarak puskesmas cukup jauh untuk di tempuh dengan jalan kaki. Tetapi syukurlah ada pak yunus yang berbaik hati mau mengantarkan bapak dan adikku ke puskesmas menggunakan motornya. Aku sedih dan merasa bersalah karena aku yang membawakan. Adikku yang belum mengerti akhirnya menelan keong itu.

Operasi
Di puskesmas adikku di rujuk untuk di bawa ke rumah sakit, kata dokter di puskesmas adikku harus segera di operasi, di takutkan keong tersebut malah bahaya dan bisa mengeluarkan racun di tubuh adikku.
Pak yunus pulang untuk memberikan kabar kami di rumah. Mendengar kabar buruk itu aku, ibuku, dan adikku berdoa semoga adikku tetap diberikan keselamatan. Ibuku mempersiapkan barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit. Aku bingung, bagaimanapun aku harus mengakui bahwa akulah yang memberikan keong itu kepada adikku.
Sembari meyiapkan barang-barang, ku lihat ibuku membuka lemari dan mengambil kaleng bekas monde, kaleng itu digunakan untuk menyimpan uang yang ibu sisihkan setiap mendapatkan hasil dari panen besar. Pak yunus yang masih ada di depan rumah menunggu mau mengantarkan ibuku menyusul ke rumah sakit. Aku dan adikku tidak ikut kerumah sakit karena susah transportasi, ibuku berpesan kepadaku agar menjaga rumah dan tetap sholat 5 waktu.
Ibuku berlalu pergi, taklama datanglah pak rt ke rumah untuk memastikan apa yang terjadi pada adikku. Dan aku memberi tau bahwa adikku di rujuk ke rumah sakit dan akan menjalankan operasi. Pak rt pun berkata akan memberikan dana bantuan untuk biaya pengobatan adikku. Aku pun berterima kasih atas bantuan yang akan diberikan oleh pak rt. Pak rt juga berkata besok akan ke rumah sakit untuk membesuk.
Pagi hari aku tetap bersekolah dan berjualan pisang goreng, selama di sekolah aku kepikiran tentang keadaan adikku, aku takut jika nantinya adikku tidak tertolong.
Setelah pulang sekolah, aku melihat keranjang pisang gorengku. Alhamdulillah habis senang sekali, aku berniat uang yang aku dapatkan dari menjual pisang goreng akan ku berikan kepada ibuku untuk biaya pengobatan adik. Ku bongkar isi kaleng tango yang berisikan uang tabungan yang selama ini aku simpan  dari hasil menjual pisang goreng, uangnya masih kurang tapi lumayan untuk menebus obat di apotek.
Aku tahu hari ini adikku akan menjalani operasi, aku di rumah sholat zuhur dan berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar dan setelah adikku menjalani operasi agar tetap sehat dan baik-baik saja.
Hari mulai senja, aku melihat di sekeliling kampung terlihat sepi sekali. Anak-anak kampung pun masuk ke rumah nya masing-masing. Sambil menunggu kabar tentang hasil operasi adik, aku tetap berdo’a.
Akhirnya ke esokkan harinya ibu pulang untuk mengambil beberapa baju untuk selama di rumah sakit. Ibu memberi ku kabar bahwa adik selamat dan sekarang sedang menunggu adik sadar dari efek obat biusnya.
Beberapa hari setelah menjalani operasi, adikku masih di rawat di rumah sakit. Bapak pulang ke rumah untuk melihat aku dan adikku di rumah. Ibuku masih di rumah sakit menjaga adikku. Setelah bapak sampai dirumah aku membuatkan kopi, dan saat mengantarkan kopi di depan rumah bapak bertanya kepadaku, bagaimana bisa adikku mendapatkan keong tersebut, karena disekitar rumahku tidak ada lahan tanah ataupun rawa-rawa, sedangkan sawah pun jauh dari rumah. Aku tersunduk bingung, apakah aku harus mengatakan sejujurnya, atau aku hanya berdiam saja. Aku yakinkan hatiku bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap jujur kepada bapakku tentang kejadian ini.
“Pak, aku yang memberikan keong itu” ucapku
“Keong yang di telan adik?” tanya bapak
“Iyaa pak...” aku berkata pelan
Wajah bapakku memerah seperti ingin mengamuk. Aku terdiam dan pasrah menerima hukuman apa yang akan diberikan kepadaku.
“Kamu ini!!! kita dari keluarga tidak mampu, dapat uang dari mana untuk biaya pengobatan adik”
“maafin itna pak, itna akan berusaha berjualan pisang goreng. Uang nya untuk menebus obat-obatan”
“itu uang untuk obat-obatan, sedangkan biaya operasi bagaimana! harus mempunyai uang yang sangat banyak”
“iya pak, kemaren sore pak RT datang kerumah menanyakan keadaan adik, nanti pak rt akan menjenguk ke rumah sakit dan memerikan bantuan dana untuk operasi adik pak”
“Alhamdulillah pak rt mau memberikan bantuan dana untuk adik, tapi bapak heran sama kamu kenapa kamu tidak berpikir .”
Aku hanya berdiam saja menderngarkan perkataan bapak.
“kamu dapat keong itu dari mana! Adikmu tidak mengerti, harusnya kamu jagain”
“dari sawah pak, waktu menanam bibit padi itna mengambilnya’
“adikmu jika tidak cepat di tolong bisa meninggal!, kamu mau?”
Bapak memukulku dengan sangat keras sambil memarahiku. Saat itu aku melihat bapakku marah sekali kepadaku.
Aku menyesal dengan apa yang aku perbuat, aku tidak menyangka bahwa adikku tidak mengerti akan menelan keong itu.

Rumah Sakit
Besok adikku sudah boleh pulang dari rumah sakit, tetapi pihak rumah sakit tidak membolehkan adikku untuk keluar, karena biaya yang harus di bayarkan masih kurang. Uang bantuan dari pak RT masih tidak cukup untuk melunasi segala biaya operasi dan obat-obatan adik. Sementara itu uang yang ibu simpan dari hasil panen besar dan uang tabunganku dari hasil berjualan pisang goreng di sekolah pun tidak cukup juga melunasi rumah sakit agar adikku bisa pulang ke rumah.
Bapak akhirnya pulang ke rumah, ibu masih di rumah sakit bersama adikku. Aku tidak tahu bagaimana bapak ku mencari uang agar bisa membayar rumah sakit. Sesampainya bapak di rumah bapak bergegas jalan kembali, aku melihat bapak berjalan ke arah sungai. Aku bingung mengapa bapak pergi kesana, ku panjatkan doa agar bapak ku tetap selamat dan di beri kemudahan supaya bisa mendapatkan uang.
Sore pun tiba bapak belum pulang ke rumah, aku khawatir apa yang terjadi dengan bapak. Adikku setelah pulang sekolah langsung pergi lagi hendak bermain bola ke tanah lapang. Jadi aku sendiri di rumah, tetapi aku ingin ke belakang surau untuk memetik kangkung, jadi rumah ku kunci. Setelah aku memetik kangkung aku memasakkan bapak untuk makan malam, lama sekali rasanya aku tidak memasak karena selama ibu di rumah sakit aku hanya memakan pisang mentah untuk mengganjal perut.
Adikku sudah pulang bermain dari tanah lapang. Tetapi bapak ku belum pulang juga dari sungai juga. Adzan maghrib berkumandang dari surau. Aku melaksanakan sholat maghrib di rumah. Sedangkan adikku sholat maghrib di surau dan lanjut mengaji dengan ustad marbot surau.
Hari sudah mulai malam aku menyalakan obor di depan rumah sebagai penerangan. Saat adikku sudah pulang dari surau aku hanya berdua. bapak belum pulang, tetapi makanan untuk makan malam sudah selesai dimasak. Sambil menunggu bapak, aku belajar di dekat lampu tembok dan mengerjakan pr untuk pelajaran besok. Pr yang diberikan adalah pelajaran bahasa indonesia, pr di suruh membuat kliping tentang pencemaran lingkungan. Aku mencari sumber dari buku-buku bekas dan koran-koran yang aku dapatkan dari gudang bekas di sebelah sekolah.
Tema yang diberikan menurutku cukup susah, karena aku harus mencari info dari sumber-sumber tentang keadaan di kota, karena di desa jarang terjadi pencemaran.
Pukul 11 akhirnya bapak pulang. Terlihat lelah sekali bapak dari raut wajahnya. Aku menawarkan makanan yang sudah ku masak untuk bapak. Tetapi bapak menolaknya, bapak berkata dirinya masih kenyang dan meninggalkan aku masuk ke dalam. Tidak apa-apa mungkin selama di jalan bapak memang sudah makan, aku pergi ke belakang dan mengajak adikku untuk makan yang aku masak.
Aku kepikiran mengapa bapak berkata seperti itu. Apa bapak masih marah kepadaku semenjak aku mengakui bahwa aku lah yang memberikan keong kepada adik.

Bu Sani
Pagi hari aku bangun lebih awal karena ingin membuat pisang goreng lebih banyak untuk di jual di sekolah. Akhirnya setengah 6 aku selesai membuat pisang goreng, dengan semangat aku memasukkan ke keranjang. Setelah itu aku mandi, mengenakan seragam dan turun ke sekolah dengan membawa keranjang itu. Sesampainya di dekat sekolah aku melihat gerbang sekolah 5 menit lagi akan di kunci, aku hampir terlambat karena selama menuju sekolah aku berjalan pelan. Aku berlari sekuat tenaga supaya tidak terlambat, karena kalau terlambat akan di berikan hukuman membersihkan wc sekolah. Akhirnya aku sampai sekitar 3 menit lagi gerbang akan di kunci.
Pelajaran hari ini Fisika, aku ingat bahwa hari ini akan ada praktek uji asam-basa, aku belum mengerti sama sekali, untung nya aku sekelompok dengan temanku yang merupakan anak guru fisika juga, jadi dia dapat membantu memudahkan praktek ini.
Tetapi, selama praktek kelompokku malah banyak melakukan kesalahan, yaitu pada saat mebagi kertas lakmus, kelompokku salah merobek bagian nya, dan akhirnya mendapatkan nilai – (minus).
Bell sekolah berbunyi, aku segera ke kantin dan membawa keranjang pisang gorengku, saat aku masih berjalan di koridor temanku sudah ada yang membeli, bu sani juga menyuruh ku ke kantor, mungkin ingin membeli pisang gorengku. Ternyata benar bu sani membeli 5 ribu pisang goreng. Rasanya senang sekali, dari kantor menuju ke kantin aku duduk di dekat pot samping wastafel. Disini banyak yang singgah membeli pisang gorengku, karena dari penjuru kelas melewati dekat sini. Alhamdulillah aku lihat pisang gorengku tersisa 2, lumayan banyak yang aku jual dan banyak yang laku juga. Saat bell masukan berbunyi aku kembali ke kelas dan untuk mengganjal perut aku makan lah sisa pisang gorengku itu.
Kebun
Jam 14.00 pak kepala sekolah mengumumkan melalui toa sekolah bahwa sekolahku siswa-siswi nya di pulangkan semua, ntah kenapa siswanya di perbolehkan pulang cepat. Kami pun bersorak gembira dan bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Aku juga senang karena dengan pulang cepat aku bisa ke kebun, karena pisang untuk aku berjualan sudah habis, jadi aku harus mengambil beberapa tandon pisang untuk sekiranya cukup seminggu ini.
Selama di jalan menuju rumah aku melewati persimpangan sungai, kemarin bapak menuju ke arah sungai, aku masih penasaran bapak ada urusan apa kesana.
Saat aku sampai di rumah aku melepas baju seragam dan berganti baju untuk ke kebun. Aku mengambil parang di dapur, Setelah itu aku meninggalkan rumah. Di kebun ternyata ada pak kasdi yang sedang mencabut singkong, kebetulan rumah pak kasdi sebelahan dengan kebun ku. Jadi saat aku sampai di kebun, pak kasdi menyapa ku. Ia berkata bahwa kemarin bapak ada ke kebun juga. Tetapi hanya sebentar saja, Cuma melihat-lihat, setelah itu kembali pulang.
Aku tambah penasaran bapak ngapain ke kebun, tidak mengajakku untuk mengambil pisang. Ku hilangkan pransangka buruk ku itu, dan aku kembali ke tujuan utama yaitu menebang pisang. Karena biasanya aku mengambil pisang dengan bapak ku, jadi aku meminta tolong pak kasdi untuk menebangkan pohon pisang di sini.
Karena pisang yang masak hanya sedikit aku hanya mengambil 2 tandon pisang. Segera pisang-pisang ku masukan ke dalam karung yang sudah ku bawa dari rumah. Setelah selesai aku pamit pulang ke pak kasdi sudah membantu ku menebangkan pohon pisang.
Sinar matahari mulai meredup menandakan hari sudah sore. Aku membawa karung pisang dengan bejalan pelan, karena isi karung pisang ini berat sekali, aku berniat besok pagi akan membuat pisang goreng yang lebih banyak lagi, barangkali akan seperti tadi banyak yang membeli pisang goreng ku.
Saat aku melihat bapakku bersama Kang Ali di depan rumah. Kang ali itu saudagar kaya di kampung ini, aku tetap berdoa semoga tidak ada apa-apa.
Aku masuk ke rumah, adikku memberi tahu ku bahwa kang ali di luar itu mau membeli kebun bapak, aku tersontak kaget mendengar perkataan adikku itu. Apa yang di katakan pak kasdi tadi benar, kemarin bapak ada ke kebun untuk melihat-lihat. Dan yang aku tahu rumah kang ali itu di dekat sungai. Ku ingat lagi bahwa beberapa hari yang lalu bapak berjalan ke arah sungai.
Mungkin ini keputusan terakhir bapak agar mendapatkan uang untuk membayar pelunasan rumah sakit adik. Setelah itu bapak masuk dengan membawa kantongan kresek hitam, aku yakin itu berisikan uang yang bapak terima dari menjual kebun dengan kang ali. Aku menanyakan kepada bapak kebenaran tentang yang di bilang adik bahwa bapak menjual kebun. Wajah bapak mulai memerah, Bapak memukul ku lagi dan marah, bapak berkata bahwa ini semua karena kesalahan ku yang membiarkan adik bermain keong dan akhirnya harus di operasi. Bapak juga menghampas pintu dan pergi meninggalkan aku dan adik di rumah.
Hujan
Senja mulai tiba, aku dan adikku menimba air di sumur, untuk mandi sore dan berwudhu untuk sholat ashar. Setelah mandi dan sholat ashar aku membersihkan lingkungan rumah, di depan rumahku banyak sekali dedaunan dari pohon ketapang yang berjatuhan. Aku menyapunya dengan sapu lidi. Semua selesai aku beralih ke dalam rumah membereskan semua. Karena selama ibu tidak di rumah, adikku bermain dan tidak membereskannya lagi. Aku yakin bahwa besok bapak, ibu dan adikku akan pulang dari rumah sakit.
Adzan maghrib pun berkumandang adikku pergi ke surau. Dan aku masuk ke rumah untuk sholat maghrib. Adikku pulang agak cepat. Karena malam ini adikku tidak mengaji ustadnya berhalangan hadir.
Setelah itu aku membaca buku pelajaran di depan lampu tembok. Besok ada pelajaran matematika, jadi aku harus belajar supaya besok bisa lebih paham materi nya.
Jam 10 malam aku berwudhu dan pergi untuk tidur, hanya di ruangan 3 x 3 tempat aku dan ke dua adikku beristirahat malam beralaskan papan triplek dan menggunakan tilam kapuk yang sudah usang. Atap rumah ku menggunakan seng yang sudah berkarat dan banyak bagiannya yang sudah berlubang. Terkadang jika malam hari hujan lebat kami bertiga tekena tetesan air hujan.
Aku pun merasa ngantuk dan akhirnya tidur karena besok harus ke sekolah dan membuat pisang goreng yang lebih banyak agar mendapatkan uang yang lebih banyak dan membantu membeli obat-obatan adikku setelah keluar dari rumah sakit.
Pagi harinya aku bangun jam 03.00, pisang yang kemarin aku ambil di kebun dengan semangat aku mengupas nya, aku hari ini akan membuat lebih banyak lagi, dan harapannya akan laku terjual habis, Setelah selesai, aku memasukkan ke dalam keranjang dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Selama di perjalan aku berjalan kaki merasakan ada tetesan-tetesan air hujan, ini pertanda akan turun hujan, segera aku berjalan agar tidak terkena hujan. Tetapi apa daya, hujan semakin deras dan aku berlari mencari tempat, akhirnya aku berteduh di dekat rumah orang, sembari menunggu gujan reda, aku menawarkan pisang goreng ku kepada pemilik rumah itu, Alhamdulillah ibu dari yang punya rumah itu membelinya, ia merasa iba denganku dan berkata malang sekali anak seusia ku harus mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Aku melihat cuaca sedikit terang, hujan menjadi reda. Aku pun berpamitan untuk kembali menuju ke sekolah dengan pemilik rumah itu dan mengucapkan berterima kasih sudah memperbolehkan berteduh dan membeli pisang gorengku.
Saat di sekolah aku merasa lelah sekali, dan aku masuk kelas tidak bersemangat. Tetapi aku berusaha menghilangkan pikiran lelah dan letih itu. Sebelum pelajaran masuk aku membuka buku catatan pelajaran pada hari ini. Membaca-baca catatan membuatku bersemangat untuk mengikuti pelajaran pada hari ini.
Bell istirahat berbunyi lebih cepat, aku segera menuju kantin untuk menjajakan pisang goreng tetapi hari ini sedikit yang membeli pisang goreng. Sampai jam istirahat habis, pisang gorengku masih banyak sisa nya. Jadi aku kembali ke kelas dengan keranjang pisang gorengku.
Berhubung hari ini hari jum’at, sebelum sholat jum’at kami sudah boleh pulang. Saat menuju rumah aku gembira karena aku akan bertemu dengan adikku. Sesampainya aku di rumah ternyata ibu bapak dan adikku sudah sampai. Aku bersaliman mencium tangan  ibu dan bapak ku. Terlihat dari raut wajahnya kesedihan yang mendalam. Aku juga sedih, aku meminta maaf kepada ibuku karena ku lah yang membuat adik seperti ini. Ibuku bersikap dingin kepadaku dan tersenyum. Ibu bilang ini bukan salah siapa-saipa, ini memang keluarga kita sedang di timpa musibah. Ibu juga memberikan renungan kepadaku bahwa di setiap kehidupan pasti mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, kesedihan dan musibah. Kita harus menghadapinya dengan lapang dada. Aku memeluk ibuku dengan erat, ibuku menguatkan jiwa ku untuk tetap bersabar dengan semua ini.
Di  depan aku melihat bapak sedang duduk meluruskan kaki, aku ke belakang hendak membuatkan kopi.Sehabis itu aku mengambil keranjang pisang goreng dan  memberikannya kepada bapakku.
Saat aku memberikan kopi, ayah ku diam saja. Aku ingin mencairkan suasana dengan menanyakan ke adaan bapak. Tetapi perbuatanku ternyata salah. Bapak menyahut dengan emosi. Bapak marah, membentakku. Aku diam tertunduk mendengar perkataan bapak. Bapak marah sekali karena perbuatanku yang salah kebun bapak harus di jual untuk membayar rumah sakit. Kebun itu satu-satunya yang keluarga ku miliki. Tidak ada lagi tempat untuk berkebun sekali di lokasi tanah itu.
Akhirnya bapak pergi meninggalkan ku tanpa meminum kopi dan pisang goreng yang aku buatkan. Ibu mendatangiku di depan. Ibu berkata sabar ya nak, bapak sedang kalut karena sudah menjual kebun peninggalan kakek.  Jadinya bapak seakan membenci diriku, tidak mau melihatku, bertemuku dan berbicara denganku.
Sehabis sholat jum’at bapak dan ibuku pergi ke sawah, karena selama adik di rumah sakit sawah tidak terurus. Karena ini musim panen ibu bersemangat pergi ke sawah.
Aku menawarkan diri untuk ikut ke sawah, tapi ibu melarang ikut, ibu menyuruhku untuk menjaga adik dan menitipkan obat kepadaku untuk meminumkan adik pada jam minum obat.
Saat jam minum obat aku meminumkan obatnya pada adik, aku menanyakan kepada adikku bagaimana bisa keong tersebut di telannya. Adik menjawab keong itu sedang masuk ke dalam cangkangnya, dia berusaha dengan berbagai cara agar keong itu keluar dari cangkang, salah satu caranya dengan mengeluarkan nafas dari mulut. Saat mengeluarkan nafas adik sampai tersenggal-senggal dan malah tidak sengaja keong itu masuk ke dalam mulut nya. Ironis nya dia sedang bermain sendiri tidak ada yang bersama nya, akhirnya keong itu masuk ke tenggorokan lebih dalam, adik tidak berdaya hanya bisa menangis merintih sakitan ada yang mengganjal di lehernya. Aku meminta maaf kepada adikku, karena jika aku tidak membawa keong itu dari sawah, adik tidak akan mungkin seperti ini, kesakitan tersiksa bahkan sampai di operasi dan mengeluarkan biaya yang sangat mahal. Adik senyum melihat ku, kata adik “gak papa papa kak itna” sekali lagi aku meyakinkan adikku untuk menerima ucapan maafku. Melihat respon adik aku memeluknya dengan sangat erat karena adik sudah memaafkan ku. Aku menyanyangi adikku, tidak akan ku mencelakaan ke tiga adikku. Akan ku lindungi dan ku jaga adikku, karena aku tidak mau kehilangan mereka.

Menyanyi
Hari ini hari sabtu, aku mengenakan seragam pramuka, aku merasa senang karena setelah pulang sekolah aku tidak langsung pulang, melainkan aku mau latihan pramuka. Di sekolah aku mengikuti ekstra kurikuler pramuka. Sekolah ku banyak mendapatkan piala-piala, bahkan sampai piala bergilir pun di raih oleh sekolah ku.
Karena ini hari sabtu, pelajaran di sekolah hanya 2 pelajaran saja, jam pertama pelajaran TIK (teknologi informatika komputer), dan jam ke dua ialah Seni Budaya. Jam pelajaran pertama di mulai, gurunya bernama pak ovan, biasanya pak ovan mengajak kami untuk belajar di laboratorium komputer. Aku senang sekali karena aku sangat jarang bermain komputer yang canggih seperti di laboratorium di sekolah ku ini. Terkadang aku merasa sedih karena jika pak ovan tidak mengajak ke laboratorium komputer, berarti pak ovan memerintahkan untuk setiap siswa membawa laptop masing-masing. tetapi aku tidak mempunyai laptop. Jangankan membeli laptop, untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi di tambah dengan kejadian musibah yang menimpa adikku. Jadi aku hanya ikut bersamatemanku yang memiliki laptop. Aku tidak merasa malu dengan keadaanku ini, karena seperti egois memaksa kan kehendak keinginan sendiri sedangkan kebutuhan orang tua juga sulit terpenuhi. Lagipula teman sekelasku juga ada yang tidak memiliki laptop sendiri. Jadi aku bersikap biasa saja.
Pagi ini materi yang di berikan pak ovan ialah microsoft word, membuat laporan menggunakan tabel. Sebelumnya aku pernah belajar sedikit saat masih di kelas 1. Jadi aku masih mudah menerima ajaran dari pak ovan.
Saat 20 menit sebelum jam TIK berakhir, pak ovan memperbolehkan kami untuk mengakses internet. Aku langsung mengklik Mozilla Firefox untuk membuka Facebook. Aku memiliki akun facebook, tetapi aku jarang memainkannya karena jika di rumah aku harus membantu ibu bapak ku, sedangkan jarak antara warnet (warung internet) dengan rumahku terbilang cukup jauh dan harus membayar mahal dalam setiap 1 jam menggunakannya. Namanya anak kampung, melihat komputer itu sebagai barang mewah. Jadi ini kesempatanku untuk membuka bermain komputer dan bermain facebok sampai melihat-lihat beranda unggahan foto-foto dari teman di facebook.
Jam pelajaran pak ovan pun usai. Istirahat pun tiba, hari ini aku beristirahat untuk berjualan pisang goreng karena dari yang kemarin banyak pisang goreng yang tidak laku dan saat jam terakhir aku hendak latihan pramuka jadi aku tidak membawa keranjang jualanku.
Bu Sani ku lihat dari arah kantor menuju ruangan kelasku dengan membawa buku paket seni budaya. Senang aku pelajaran bu sani. Saat bu sani masuk kelas mengucapkan salam aku menjawab salam paling nyaring. Bu sani masuk dengan tersenyum manis menggunakan kacamata bulat berwarna coklat tua. Bu sani pun duduk di meja guru dan mengabsen siswa-siswi di kelasku. Setelah itu bu sani menyuruh membuka buku paket halaman 72, yaitu materi lagu daerah. Karena aku tidak memiliki buku aku ikut bergabung dengan temanku yang mempunyai buku. Bu sani memberikan kami kesempatan untuk menyanyikan lagu-lagu daerah yang kami hapal. Aku mulai mengingat-ingat lagu daerah yang aku ketahui, terlintas di pikiranku lagu Injit-Injit Semut. Lagu injit-injit semut lagu daerah dari Jambi yaitu Provinsi  yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Aku tau lagu ini karena ibu ku yang sering menyanyikannya semasa aku kecil.
Akhirnya aku memutuskan untuk bernyayi lagu ini. Absen ku masih jauh untuk maju tampil ke depan. Selama aku menunggu, aku melihat penampilan teman-temanku. Ada yang menyanyikan lagu Ayo Mama dari, Ampar-ampar pisang, Kampuang nan jauh di mato, Apuse, Gundhul pacul, sajojo, sinanggar tulo. Tidak terasa absen ku dipanggil oleh bu sani. Dengan berani aku maju ke depan kelas untuk bernyanyi. Ku nyanyikan lah lagu injit-injit semut.

Jalan-jalan ke Tanah Deli
Sungguh Indah tempat tamasya
Kawan jangan bersedih
Mari nyanyi bersama-sama
Kalau pergi ke surabaya
Naik perahu dayung sendiri
kalau hatimu sedih
Yang rugi diri sendiri
*Injit-injit semut
siapa sakit naik di atas
injit-injit semut
walau sakit jangan di lepas (*)2x
Naik Perahu ke pulau seribu
Sungguh indah si pulau karang
sungguh malang nasibku
punya pacar di ambil orang
ramai sungguh bandar jakarta
tempat orang mengikat janji
walau pacar tak punya
hati senang dapat bernyanyi
*injit-injit semut
siapa sakit naik di atas
injit-injit semut
walau sakit jangan di lepas (*)2x
Semuanya pun terkesima mendengar aku bernyanyi dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepadaku. Bu sani juga memberikan tepuk tangan dan juga memberikan pujian bahwa pelafalan vokal ku bagus dan merdu sekali, aku membalas pujian tersebut dengan senyuman. Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, rasa bahagia di dalam hatiku telah bernyanyi di depan kelas dengan bagus. Bukan bu sani saja yang memujiku, melainkan semua teman sekelasku juga memuji keindahan suaraku ketika bernyanyi tadi.Akhirnya bu sani mempersilahkan aku untuk kembali ke tempat duduk ku.
Bu sani lanjut memanggil teman-temanku untuk bernyanyi. Berbagai lagu yang aku dengarkan pada hari ini menjadi pengetahuan baruku terhadap lagu lagu daerah.
Bell pelajaran berakhir usai. Bu sani menitipkan kertas kepada ketua kelas untuk mengumumkannya pada kami, kertas itu ialah jadwal ujian akhir semester genap yang akan di adakan pada hari senin depan. Setelah mencatat jadwal ujian akhir semester aku berniat selama di rumah harus belajar dengan giat, walaupun aku tidak mempunyai buku cetak pelajaran, aku tetap bisa belajar menggunakan buku catatan yang setiap pelajaran aku catat. Agar mendapatkan nilai yang bagus dan tidak mengalami remedi pada pelajaran-pelajaran yang di ujikan.
Tak lama kemudian aku mendengar adzan berkumandang dari musholla sekolahku, segera aku menuju musholla mengambir air wudhu dan bersiap untuk melaksanakan sholat zuhur. Setelah selesai sholat zuhur aku bersiap siap untuk latihan pramuka di lapangan.
Pramuka
Aku berjalan keluar kelas menuju ke gudep yang terletak di ujung sekolah. Tidak sengaja aku bertemu temanku yang saat kelas 1 sekelas denganku namanya elly. Akhirnya aku bersama elly menuju gudep. Saat sampai di gudep, ternyata yang mengikuti ekstra kurikuler pramuka sudah berkumpul lebih dahulu dari kami.
Setelah itu pembina pramukaku langsung membuat sebuah permainan sebelum memulai materinya, Aku sangat gembira.
Kami latihan penuh pada hari ini, karena minggu depan ada ujian akhir semester genap, jadinya ekstra kurikuller pramuka di liburkan. Pembina pramuka ku bernama kak asnan beliau guru sekaligus ketua kwarcab, berbagai pelatihan yang ia ikuti sehingga membuat sekolahku bisa mendapatkan banyak piala dan piala bergilir. Selesai bermain, kak asnan mengumpulkan aku dan teman teman untuk memulai materi pramuka. Pada latihan terakhir pada minggu ini kak asnan akan menyampaikan materi tentang smaphore, tali temali, dan juga sandi. Kali ini ia tidak sendirian, kak asnan membawa teman- temannya dari kwarcab. Kak asnan membagi kami menjadi beberapa kelompok agar lebih mudah menyampaikan materi. Reguku mendapatkan kelompok pertama dan di dampingi langsung oleh kak asnan. Kak asnan menjelaskan materinya yaitu smaphore. Mulai dari sejarah, tujuan, dan cara menggunakan smaphore beliau terangkan, kak asnan menunjukku dan menyuruhku untuk mempraktekan beberapa aba aba smaphore yang sudah di terangkan tadi kepada teman-teman reguku. Tanpa ragu aku membuat aba-aba kepada reguku dan aba-aba ku di jawab langsung dengan serentak oleh reguku. Kak asnan tersenyum melihat reguku yang sudah mahir dengan materi semaphore, lalu ia melanjutkan dengan materi sandi. Mulai lah ia menerangkan materinya, sejarah, tujuan, dan jenis jenis sandi kak asnan terangkan semua. Lalu ia memberikan sebuah soal sandi morse kepada kami, dan lagi aku dan reguku bisa menjawabnya dengan serentak. Tidak terasa sudah menunjukkan jam 16.30latihan pramuka akan selesai dan sebelum bubar di adakan tradisi operasi semut, yaitu pengumpulan sampah yang berserakan di sekitar lingkungan sekolah. Dan waktunya kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku langsung membereskan tasku dan bergegas untuk pulang. Di dalam perjalanan pulang aku berpapasan dengan anak SMA laki-laki yang menabrakku beberapa hari yang lalu sehingga pisang gorengku terjatuh. Aku masih ingat wajahnya dan tas yang dia pakai. Ada rasa dendam di dalam hatiku ketika aku melihatnya, tetapi aku teringat perkataan ibuku bahwa di dalam ajaran islam bahwa sesama umat manusia kita tidak di perbolehkan untuk berkelahi apalagi dendam terhadap sesama, oleh karena itu aku memupuk sedalam dalamnya rasa dendam yang ada pada diriku dan mencoba untuk mengikhlaskannya. Anak SMA itu tiba tiba berbalik arah. Perasaan takut dan berperasangka buruk mengapa dia datang menghampiriku, ternyata anak SMA itu ingin meminta maaf karena sudah membuat pisang gorengku jatuh berserakan dari dalam keranjang, aku pun diam saja. Anak sma itu mungkin sadar apa yang ia perbuat sudah membuat rugi anak smp seperti diriku rugi karena pisang gorengnya jatuh. Akhirnya ia mengeluarkan uang dari saku celananya uang berwarna hijau yang bernominalkan Rp.20.000,- dan memberikannya kepadaku. Aku menjadi bingung apa aku harus menerima uang itu atau tidak. Ia pun berkata tidak apa-apa dik ambil saja uang ini sebagai ganti kemarin saya menjatuhkan jualan adik. Karena aku masih berdiam saja, ia memberikan uang itu kepadaku. Aku pun memaafkanya dengan sepenuh hati dan mengucapkan terima kasih. kemudian anak SMA laki-laki itu tersenyum dan berterima kasih kembali padaku, karena telah memaafkannya lalu ia pergi meninggalkanku.
Merenung
Selama perjalanan pulang ke rumah aku memikirkan bagaimana cara bisa menambah penghasilan orang tua ku, untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan biaya sekolah ku dan ke dua adikku, dan kebutuhan biaya pengobatan adikku yang terakhir. Penghasilan orang tua ku bersawah tidak terlalu banyak. Jika cuaca sedang musim hujan atau musim panas, ibu dan bapak akan kesulitan dalam bersawah dan sedikit padi yang akan di hasilkan.
Saat panen besar, ibu dan bapak akan kewalahan dengan hasil padi yang sangat banyak, jikalau aku pulang sekolah lebih cepat aku akan pergi menyusul ibu dan bapak membantu di sawah. Terkadang menjelang senja di sawah bahkan sampai adzan maghrib dari surau berkumandang ibu bapak baru pulang ke rumah.
Tak terasa aku merenung sambil menyusuri jalan akhirnya aku sampai di rumah. Aku merasakan kelelahan sekali sehabis latihan pramuka, tetapi aku harus pergi ke sungai untuk mandi serta mencuci baju ibu bapak dan adik-adikku. Biasanya aku bersama tini, anak kampung di sini juga, rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Sekilas orang melihat aku dan tini seperti sebaya, tetapi umurnya tini lebih tua, malang sekali ia tidak melanjutkan sekolah saat masih SMA karena orang tuanya tidak mempunyai biaya untuk sekolah nya tini.
Sungai ini tidak terlalu jauh, dari rumah aku dapat melihat sungai yang lumayan luas. Aku berjalan menuju sungai bersama tini dengan membawa baskom yang berisikan baju-baju kotor yang kami bawa dari rumah masing-masing, baga pemudi-pemudi lainnya yang mandi di sungai ini. maklum jika air sumur sedang kering, alternatif lain untuk bisa mandi ya pergi ke sungai.
Setelah nya aku selesai mandi dan mencuci, tini mengajakku pulang karena hari sudah terlihat sore sekali, aku pun bergegas dengan baskom bawaan ku untuk kembali pulang.
Malam hari nya angin kencang menerpa pepohonan di sekitar rumahku, atap-atap rumah berbunyi seakan atap tersebut mau lepas. Beberapa detik angin kencang hujan pun turun, ku melihat dari balik jendela obor-obor di depan rumah warga pun menjadi mati karena terkena air hujan. Kampung menjadi gelap gulita, tak ada satupun cahaya dari manapun. Setelah aku dan ibuku sholat maghrib berjamaah, aku membantu ibu untuk mempersiapkan makan malam. Tak lama juga bapak dan adikku pulang dari surau dengan menggunakan daun pisang sebagai pelindung terkena air hujan. Ibu keluar rumah juga melihat bapak dan adik yang kebasahan. Perut semakin lapar karena cuaca yang dingin, akhirnya kami langsung makan bersama di ruang depan. Makan malam hari ini tak lain ialah oseng-oseng sayur kangkung yang ibu petik sepulang dari sawah di belakang surau dan tempe goreng yang masih ada dari beberapa hari yang lalu, ditambah dengan sambal sebagai pelengkap rasa. Adikku keadaannya sudah mendingan, ia sudah diperbolehkan dokter menelan makanan yang bahannya agak keras. meskipun begitu adik tidak boleh terlalu banyak memakan makanan yang lain. Masih masa pemulihan setelah operasi dapat berbahaya jika terlalu berlebihan.
Hujan pun semakin deras, kilat dan petir menyambar. Suara petir terdengar sangat nyaring dan memekikkan telinga, membuat yang mendengarkan seolah akan menutup telinga. Angin-angin juga terasa dingin merasuki tulang walaupun kami sedang berada di dalam rumah. Lampu tembok yang menempel di dinding kayu rumah pun menjadi gelap sirna tertiup oleh angin. Aku pun ke dapur mengambil korek api kayu untuk menyalakan lagi lampu tempok yang sudah mati. Sekalian aku mengambil obor kecil yang terbuat dari kaleng susu bekas yang berisikan sumbu dan minyak tanah sebagai penerangan tambahan di dalam rumah.
Aku berniat mau mengulang pelajaran pada malam hari ini, walaupun ini malam minggu, bukan berarti untuk ku bermalas-malasan karena turun hujan, karena hari senin aku akan menghadapi ujian semester kenaikan kelas. Sebelum belajar aku membaca doa agar di mudahkan Allah swt. Di temani lampu obor dari kaleng susu bekas aku membaca buku catatan dan juga buku paket yang diberikan orang kepadaku.
Tak terasa aku mulai mengantuk ternyata waktu sudah menunjukkan jam setengah 11 malam. Bapak yang  masih belum tidur sedang duduk di depan rumah sambil meminum segelas kopi hangat. Aku pun mematikan lampu yang aku gunakan untuk belajar. Dan pergi menghampiri bapak yang berada di depan rumah.
Aku ingin sekali menemani bapak yang sendirian di depan rumah tetapi bapak menyuruhku untuk tidur dikarenakan hari sudah larut malam dan besok lusa ada ujian semester yang menentukan apakah aku naik kelas atau mungkin tinggal kelas. Dengan berat hati aku pergi meninggalkan bapak sendirian duduk di depan rumah, aku pun segera tidur supaya besok bisa bangun pagi-pagi.
Semesteran
Aku terbangun jam 5 subuh, karena aku tidak membuat pisang goreng pada hari ini. aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan mengambil air wudhu lalu sholat. Setelah sholat aku belajar lagi materi pelajaran yang akan di ujikan nanti. Sambil belajar aku membantu ibuku di dapur. Hari ini aku sangat bersemangat  pergi ke sekolah, apalagi hari ini ada ujian semester semua itu aku hadapi dengan penuh semangat. Matahari pun mulai terbit, bergegaslah aku mandi dan mempersiapkan alat-alat ujianku untuk pergi ke sekolah. Sebelum  pergi ke sekolah aku sempatkan untuk mengulang-ngulang pelajaran yang tadi malam aku pelajari supaya lebih memantapkanku untuk mengerjakan soal-soal ujian nantinya. Aku berpamitan ke kedua orang tua ku dan mengharapkan doa darinya supaya aku di beri kemudahan untuk menjawab soal ujian semester, lalu Aku segera berangkat sekolah karena takut terlambat, dengan jarak antara rumahku dan sekolah cukup jauh mengharuskan aku untuk berangkat lebih awal. Di tengah perjalanan aku teringat bahwa aku meninggalkan peralatan ujianku di meja belajar, bergegas aku kembali ke rumah untuk mengambil peralatan ujianku itu, pagi ini cuacanya sudah terik. Sesampai di rumah aku langsung saja masuk dan mengambil peralatan ujianku itu, setelah itu aku secepat mungkin pergi ke sekolah.
Sesampainya aku di sekolah, aku langsung masuk kedalam kelas. Nafas ku masih terengah engah kelelahan, sebab dari rumah sampai ke sekolah aku berlari secepat mungkin untuk mengejar waktu. Untung aku sampai kurang sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup, jika lambat sedikit saja mungkin hari ini aku tidak dapat mengikuti ujian semester kenaikan kelas. Aku pun beristirahat sejenak melepaskan rasa letih ku, salah satu teman sekelasku menghampiri ku dan menawarkan aku air mineral. Namanya nirwa, dia merupakan teman sekelasku yang cukup baik di mataku, dia selalu menolong bila ada temannya yang lagi kesusahan dan cukup perhatian juga. Dengan keadaanku yang kelelahan aku menerima air mineral tanpa basa-basi dan berterima kasih kepadanya.
Nirwa menaruh tas nya duduk di sampingku dan kami pun saling tersenyum. Bell sekolah berbunyi menandakan ujian semester akan dimulai. Aku segera menyiapkan peralatan ujianku dan menata rapi mejaku. Guru pengawas masuk ke kelasku, ternyata yang mengawas ujian di kelasku ialah bu sani, aku sangat senang sekali bu sani merupakan guru yang paling aku senangi di sekolah ini.
Bu sani memulai ujian dengan pertama-tama ia bacakan peraturan- peraturan selama pelaksanaan ujian, lalu membagikan soal ujian semester. Deg-degan rasanya aku menerima soal yang dibagikan oleh bu sani, bu sani hanya tersenyum kepada ku meliat aku yang lagi deg-degan. Sebelum mengerjakan soal aku berdoa untuk minta di beri kemudahan selama mengerjakan soal.
Tak terasa waktu bell sekolah berbunyi menandakan waktu ujian telah habis. Akhirnya  ujian pada hari ini selesai, aku sedikit lega karena bisa menjawab soal ujian semester tadi, semua yang aku pelajari tadi malam keluar pada ujian hari ini. Dengan begitu, aku cukup yakin dan percaya diri akan hasil yang aku peroleh nantinya.
Segera aku pulang untuk bisa membantu bapak dan ibu bersawah dan juga belajar untuk menghadapi ujian besok hari. Sesampainya di rumah, aku langsung mengganti pakaian sekolah dengan baju biasa lalu menuju ke sawah, membantu ibu dan bapak bersawah. Walaupun aku sedang ujian semester kenaikan kelas aku tidak bermalas-malasan di rumah, aku tetap rajin membantu kedua orang tua ku bersawah.
Menurutku membantu ibu bapak bersawah itu tidak membuat beban tetapi mengasyik kan, dengan membantu bersawah membuat beban pikiran selama ujian tadi menjadi lebih ringan. Setelah membantu bersawah aku memutuskan untuk balik lebih awal untuk menyiapkan makan siang. Setibanya aku di rumah, aku disambut oleh adikku yang paling kecil aku senang sekali disambut oleh adikku yang paling kecil, ku cubitlah pipinya membuatnya meringis kesakitan, aku lanjutkan menuju dapur dan memulai untuk memasak makan siang.
Adzan mulai berkumandang waktu sholat zuhur sudah tiba, ibu bapakku baru pulang dari sawah, aku memberikan minuman kepada mereka. Kulihat mereka sangat kelelahan dari pagi sampai siang berada di sawah demi mencukupi kebutuhan keluarga kami. Setelah beristirahat sejenak di depan rumah ibu bapakku mulai berkemas-kemas membersihkan badan mereka, setelah itu kami sekeluarga makan siang bersama dengan makanan yang telah ku buat tadi. Ibuku memuji makanan yang aku buat ini, bapaku juga memuji masakanku, aku senang dengan pujian dari orang tuaku tak menyangka bahwa masakan yang aku buat itu disukai kedua orang tuaku dan juga adik-adikku.
Hati ku menjadi sejuk, karena sikap bapak yang melihatku seperti muak akhirnya bapak seperti lupa dengan kejadian sebelumnya. Selesai makan siang aku membantu ibu beres-beres bekas makan siang tadi. Setelah itu segera aku belajar buat ujian esok hari. Sehubungan ujian besok itu matematika dan kimia. aku berusaha belajar semaksimal mungkin agar besok aku dapat mengerjakan soal ujian.
Di dalam proses aku belajar, aku sedikit kebingungan. Dengan alat bantu belajar seadanya proses belajar ku di rumah sedikit terhambat. Tak terasa hari pun mulai senja, dari tadi aku keasyikan belajar sehingga tak memperhatikan jam. Aku segera ke dapur membantu ibu mempersiapkan hidangan makan malam, makan malam kali ini hanya dengan telur dan mie saja tanpa ada sayurnya.
Alhamdulillah bulan ini keluarga kami mendapatkan jatah beras pemerintah dan beberapa sembako. ibuku tak sempat membuatkan sayur karena tadi sore ibu sedang ada di sawah dan baru pulang jam enam kurang lima menit dan aku juga tadi keasyikan belajar sampai lupa dengan waktu. Tapi kami tetap bersyukur dengan makanan seadanya tanpa ada rasa mengeluh sedikit pun. Selesai menyantap makan malam aku membantu ibuku bersih-bersih tempat yang tadi di pakai untuk makan malam, piring-piring bekas makan aku cuci semua sedangkan ibuku membersihkan kotoran yang masih berada di tempat makan malam tadi.
Setelah selesai barulah aku lanjutkan belajar ku tadi, dengan di bantu dengan buku catatan sedikit lebih membantu walaupun masih juga bingung karena catatan yang aku buat kurang lengkap. Aku berusaha belajar dengan semaksimal mungkin untuk meraih hasil yang maksimal juga tentunya. Sangking seriusnya aku belajar, tak terasa waktu mulai larut malam jam menunjukan pukul 12:00, aku harus segera tidur supaya besok tidak kesiangan. Lampu tembok ku matikan dan lalu pergi ke  kamar untuk segera aku tidur.
Saat adzan subuh berkumandang, aku tidak terbangun mendengar adzan subuh, sekarang sudah pukul 05.30 segera aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang muslim yaitu sholat. Mungkin karena aku tidur terlalu larut malam akhirnya aku bangun kesiangan. Di dalam sholatku aku berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran untuk menjawab soal ujian semester ini, ujian ini menentukan apakah aku naik kelas atau tidak naik kelas.
Setelah selesai sholat aku membantu bantu ibu seperti biasanya, disela-sela membantu ibu aku sempatkan mengulang sedikit pelajaran yang aku pelajari tadi malam. Aku berpamitan kepada kedua orang tuaku dan meminta doa restu darinya supaya aku dapat mengerjakan soal dengan mudah, ku cium kedua telapak tangannya lalu berangkat ke sekolah.
Selama di perjalanan aku mengingat-ingat apa yang sudah aku pelajari tadi malam, aku membuat ringkasan singkat yang mudah untuk ku baca dan mudah bawa kemana-mana
 Bell sekolah berbunyi waktu ujian pun segera dimulai, guru pengawas memasuki ruangan ujian, aku sungguh kaget bahwa pengawasnya pak ebie. Pak ebie menurut pandanganku ialah sosok guru yang tegas, bisa di bilang sebagai guru killer atau pemarahan. Oleh karena itu, aku kalau meliat pak ebie ada rasa sedikit takut, dan juga termasuk guru yang tidak aku sukai karena ketika pelajaran olahraga dia sering memarahi murid-muridnya. Pak ebie membangikan soal ujian, ujian hari ini ialah fisika, ketika pak ebie mengasihkan soal kepadaku, ku tatap wajah pak ebie namun ia membalasnya dengan tatapan cuek kepadaku, itu membuatku semakin ketakutan olehnya.
Soal ujian sudah kuterima langsung saja aku mengerjakan soal dengan penuh kenyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi. Namun apadaya aku dibuat pusing tujuh keliling oleh fisika, sudah hampir putus asa aku mengerjakan soalnya tapi aku teringat sebuah pesan dari ibuku, bahwa di dalam mengerjakan sesuatu kita tidak boleh mudah berputus asa, berusahalah terus dan jangan mudah menyerah. Mengingat hal itu aku jadi bersemangat mengerjakannya walaupun kepalaku sudah mulai memanas.
PORSENI
Selama seminggu aku mengikuti ujian, akhirnya ujian semester telah usai. Agenda hari ini adalah classmetting, beberapa hari kepedan akan ada PORSENI atau pekan olahraga dan seni, lomba yang paling populer saat classmetting adalah futsal. Sekolahku futsalnya cukup terbilang tim kuat, karena selama ada event-event futsal, tim futsal pasti mewakili sekolah dan sering membawa oleh-oleh piala untuk sekolah.
Selain futsal ada juga pertandingan volly, basket, dan tenis meja. Dalam lomba-lomba tersebut aku mengikuti perlombaan tenis meja putri sebagai perwakilan kelasku. Aku bisa bermain tenis meja karena di kampungku ada yang memiliki seperangkat alat tenis meja. Walaupun mejanya sudah tua dan warna cat nya sudah memudar. warga tetap menjaga meja itu dengan memperbaiki bagian-bagian yang sudah patah agar tetap bisa di pakai.
Semua orang mulai dari bapak-bapak, anak muda, sampai anak-anak sepertiku pasti pernah bermain di meja itu. Saat perlombaan 17 agustus di kelurahan aku latihan menggunakan meja nya. Pemiliknya mempersilahkan aku untuk bermain, agar bet, dan bola nya harus tetap di jaga, dan jangan sampai hilang.
Alhamdulillah aku mendapatkan juara harapan 1, senang sekali rasanya aku tetap mendapatkan hadiah dari kelurahan, saat itu aku menjadi menyukai olahraga tenis meja.
Tetapi saat ini sepertinya aku tidak latihan untuk pertandingan porseni besok di sekolahan, karena setelah aku pulang aku ingin membantu ibu bapak di sawah. Aku harus tetap membantu, dan juga selama kebun sudah di jual aku tidak menjual pisang goreng lagi.  Aku berpikir tidak apa lah kalau aku tidak menang dalam pertandingan besok, tetapi sebisa mungkin aku berusaha agar bisa memenangkan kelas ku.
Tenis Meja
Pagi ini aku berangkat dari rumah menggunakan baju olahraga, aku memberi tahu ibuku bahwa hari ini aku akan mengikuti pertandingan tenis meja putri di sekolah, ibuku menyemangati ku dan berdoa agar bisa mendapatkan juara. Saat aku bersiap-siap, ibuku dari dapur membuatkan aku teh hangat. Aku senang sekali, karena biasanya aku turun sekolah tidak meminum teh.
Setelah meminum teh yang ibu buatkan, aku berpamitan untuk turun ke sekolah. Selama di perjalanan aku berjalan sambil jogging pelan. Karena aku tidak membawa buku dan tas yang berat. jadinya aku sebelum sampai ke sekolahan sudah pemanasan selama di jalan.
Aku langsung menuju aula olahraga, karena aku harus mengambil nomor dan mencari lawan pemain. Saat pengambilan nomor aku mendapatkan lawan yaitu kelas 1, aku berdoa semoga lawan main ku bisa ku kalahkan. Sambil menunggu aku pemanasan tangan dan kaki agar tidak keram saat bermain. Tibalah nama ku di panggil untuk segera menuju meja tanding, aku yakin kan hatiku supaya bisa mengalahkan adik kelasku.
Saat bermain aku sering melakukan smash, ku lihat adik kelas ku ini seperti kelihatan kaku saat bermain, dengan mudah aku sikat pukulan bet dari lawan, dan wasit meniup pluit bahwa pertandingan sudah dimenangkan olehku dengan skor 21 – 9 . aku tak menyangka dan itu pertanda aku masuk ke babak selanjutnya.
Di babak selanjutnya aku ketahui bahwa lawan ku ialah, anak kelas sebelah. Aku merasa gugup melihat lawan mainku nanti, tetapi aku yakin bisa memenangkan pertandingan ini.
Saat itu lawan mainku berjabat tangan denganku, dan wasit meniup pluit menandakan pertandingan di mulai, Pertandingan ini lebih mendebarkan karena aku lihat lawan main ku 11, 12 denganku.
Lawan ku, memberikan smash dengan kuat, dan aku pun membalas dengan cekatan. Tak terasa wasit meniup pluit dan memberikan tanda bahwa lawan main ku yang memenangkan pertandingan ini, ia hanya unggul 2 skor saja dariku. Aku sedih tidak menjadi juara 1 dalam pertandingan tenis meja putri ini, tetapi Alhamdulillah aku menjadi juara 2. Aku tetap bersyukur aku bisa membanggakan kelasku dan mendapatkan hadiah.
Seusai pertandingan aku keluar aula olahraga, cuaca yang terik membuatku menjadi dehidrasi. Dari rumah aku membawa air putih dalam botol bekas air mineral. Air putih ini aku rebus sendiri. Aku tidak mempunyai uang untuk membeli es ataupun makanan lain. Jadi aku hanya meminum air putih saja.
Ke esokkan harinya pebagian hadiah. Aku sudah senang karena namaku akan di panggil untuk menjadi juara 2. Pembagian hadiah di berikan oleh Kepala sekolah. Saat namaku di panggil untuk mengambil hadiah, aku tampil ke depan dan bersalaman dengan bapak kepala sekolah dan mengambil pemberian hadiah dari sekolah.
Aku pulang ke rumah dengan memeluk hadiah yang aku dapatkan setelah memenangkan pertandingan. Aku ingin cepat sampai di rumah agar bisa memperlihatkan kepada ibu bapak dan adikku.
Saat aku sudah mendekati rumah, aku melihat adik yang berada di depan pintu sambil melambai-lambaikan tangannya. Aku pun berlari dengan senyum bahagia melihat adikku yang sudah menyambutku di rumah. Aku memeluk adikku dengan erat, dan ku berikan hadiah itu kepadanya.
Adik masuk deluan dengan membawa hadiah itu, aku pun mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah. Tetapi salam ku tidak ada yang menjawab, padahal jam segini ibu dan bapak harusnya sudah ada di rumah. Pas aku masuk kedalam aku tak menemukan siapa-siapa melainkan adikku yang sedang duduk dan memegang hadiah itu sambil penasaran dengan apa isinya. Aku pun ke belakang hendak mencari dimanakah ibu berada, aku ingin sekali memberi tahu kabar gembiraku. Kulihat ibu dan bapak sedang berbicara di pintu belakang. Seperti ada obrolan penting dan harus di rahasiakan sehingga berbicara di belakang. Tak sengaja aku mendengar perkataan bapak yang mengatakan bahwa bapak tidak sanggup untuk membiayai sekolah ku saat naik ke kelas 3. Seperti tersambar petir aku mendengarnya dan aku bebalik arah mendekati adikku. Kegembiraanku sepulang sekolah sirna menjadi kesedihan setelah mendengar apa yang bapak ucapkan tadi.
Ibu dari belakang menuju ke depan menghampiriku. Dan melihat apa yang di pegang oleh adik. Ibu pun memberikan ucapan selamat kepadaku, padahal aku belum memberi tahu bahwa aku menang dalam pertandingan, ibu memelukku dan menanyakan aku juara berapa. Di dalam pelukanku aku menjawab “itna juara 2 bu” tetapi ibu merasakan isak suaraku yang menjadi senggal. Ibu pun heran mengapa aku menjawabnya sepeti ini.
Aku tak kuasa untuk menanyakannya kepada ibu, tetapi mungkin ibu tahu bahwa aku mendengar apa yang ibu dan bapak bicarakan.
Ibu berusaha membuatku tenang dengan berbicara lembut ibu mengatakan bahwa ibu akan tetap membiayain sekolahku, tiba-tiba bapak datang dan berkata membuatku tidak enak.
Bapak bilang, kalau aku naik kelas nanti untuk membayar keperluan sekolah bapakku tidak sanggup lagi. Terlebih sejak kebun di jual, bapak selalu mengungkit-ungkit kejadian itu. Seolah memojokkan aku tentang kebun di jual karena aku yang membuat adikku menjadi di operasi.

Pembagian rapot
Setelah usai classmetting, tibalah waktunya untuk pembagian rapot, hasil dari selama semester ini. Aku tau yang akan mengambil rapot adalah bapakku. Jadi hari ini bapak tidak berkebun, hanya ibuku saja yang pergi berkebun.
Aku turun ke sekolah lebih dahulu, untuk orang tua yang akan mengambil rapot diadakan jam 10 pagi. Suasana hati ku tidak menentu. antara takut, gelisah, khawatir, dan bimbang. Aku terus berdoa agar nilai rapot ku tidak ada yang berwarna merah dan aku naik kelas 3. Tetapi aku takut juga dengan nasib ku, apabila bapak tidak sanggup membiayai sekolahku saat naik kelas bagaimana. Jadi aku bertawakkal kepada Allah swt agar apa yang terjadi memang sudah menjadi jalan hidupku.
Saat pembagian rapot, bapak ku masuk ke dalam kelas dan menunggu panggilan nama ku di sebutkan. Nama siswa di panggil menurut rangking, bapak ku lama menunggu, aku melihat dari luar mengapa namaku tak juga di sebutkan.
Beberapa setelah nama temanku di sebutkan, wali kelasku pun memberi kan ucapan selamat kepada bapak, ibu, walimurid. Karena yang masih bertahan ialah anaknya yang mendapatkan pringkat 10 besar.
Setelah 1 temanku di panggil, nama ku pun di panggil juga, alhamdulillah aku mendapatkan rangking 9. Aku meloncat-loncat dari luar kelas, senang dan gembira rasanya aku naik kelas dan mendapatkan peringkat 10 besar.
Semua agenda pembagian rapot telah usai. Aku pulang ke rumah bersama bapakku. Di perjalanan bapak memulai pembicaraan, aku sudah menduga bapak akan membicarakan tentang ke tidak mampuan untuk membiayain sekolah ku saat naik kelas 3.
Aku menjadi sedih, bapak merangkulku sambil berjalan. Bapak mengucapkan selamat kepadaku bahwa aku bisa meraih rangking 10 besar. Aku pertamanya tersenyum saja, karena di dalam benak ku bapak akan seperti yang aku dengar kemarin.
Ternyata benar bapak membicarakan bahwa bapak tidak mampu untuk membayar uang sekolah yang harus di bayarkan saat kenaikan kelas. Sebelumnya bapak berkata, jika tidak ada jalan lain untuk mendapatkan uang kemungkinan itna harus putus sekolah. Hatiku disitu hancur berkeping-keping, tak ku sangka aku harus menghadapi nasib seperti ini. Aku menjawab, apabila memang itu keputusan bapak, itna tidak bisa mengelak, itna hanya bisa mengikuti yang bapak mau. Karena jika aku tetap memaksakan untuk sekolah, siapa yang akan membiayain sekolahku.
Tak ku sangka bapak malah tersenyum, aku jadi heran kenapa raut wajah bapak menjadi seperti orang bahagia. Akhirnya bapak mengatakan bahwa aku tidak jadi untuk berhenti sekolah. Saat pengambilan rapot bapak sudah berdiskusi tentang kelanjutan sekolahku, kata guruku sangat di sayangkan jika aku harus putus sekolah dan pada pembagian rapot kenaikan kelas aku mendapatkan peringkat. Syukurlah guru bagian waka kesiswaan mengatakan kepada bapak bahwa ada pemerintah dari kabupaten yang akan memberikan dana bantuan kepada siswa-siswi yang kurang mampu. Jadi aku bisa membayar uang kenaikan kelas dengan dana tersebut.
Mendengar perkataan bapak demikian aku terharu meneteskan air mata dan memeluk bapak ku dengan erat. Aku meminta maaf bahwa sebelumnya aku sudah berperasangka buruk kepada bapakku. Aku mengira bapak sudah mengurus surat ke pihak sekolah jika aku akan tidak melanjutkan sekolah.
Bapak tersenyum, matanya berkaca-kaca, bapak meminta maaf juga karena sikap bapak yang kasar kepadaku selama ini, karena bapak sedang dalam ke kalutan harus menjual kebun yang merupakan warisan dari kakek. Aku mengangguk dan menjadi riang. Kami teruskan perjalanan kami sampai ke rumah. Ternyata ibu sudah pulang dari sawah. Ku ceritakan tentang hasil pembagian rapotku. Ibu memberikan ucapan selamat dan ciuman di pipi tanda suatu kebahagiaan terpancar olehnya. Bapak pun juga menceritakan ulang tentang semua yang di kabarkan oleh guru di sekolah. Ibu pun menjadi senang bahwa aku tidak jadi putus sekolah.
Ibu yang sudah memasak setelah pulang dari sawah, mengajak aku dan bapak ku untuk makan. Ku panggil lah ke 3 adikku untuk ikut bergabung makan bersama, Sebelum makan bapak memimpin baca doa selamat sebagai ucapan rasa syukur dan alhamdulillah dengan semua nikmat yang Allah berikan kepada kami semua,


~TAMAT~



Biodata Penulis
 ASWINNI NUR PRAMESWARI adalah seorang pelajar kelahiran Sangatta, 29 Agustus 2000. Ia merupakan anak ke dua dari dua bersaudara dan mempunyai hobi olahraga bersepeda. Makanan favoritnya ialah bakso, pempek-pempek dan rawon. Meredam Kesedihan merupakan novel pertamanya yang ia tulis, mohon di maafkan jika terdapat kesalahan dalam penulisan pada novel ini.
Aswinni dapat di hubungi melalui line dengan scan barcode dibawah, email :
aswinni.np@gmail.com dan instagram: @aswinni_np

                                                                             


Komentar